MEMPERKUAT REPOSISI CITRA DENGAN SLOGAN DAN MOTTO YANG KUAT

Posted on Updated on

*) SEBUAH LONTARAN IDE

Budaya organisasi adalah fenomena kolektif yang diturunkan dari pengalaman bersama pada suatu organisasi dan ia dapat membedakan dengan organisasi yang lain. Salah satu unsur budaya organisasi adalah simbol-simbol organisasi, yang dapat berupa logo. Logo merupakan penterjemahan dari ide-ide abstrak, kemudian disingkat menjadi sesuatu yang nyata. Ide-ide abstrak dari setiap orang atau kelompok orang pada suatu organisasi berbeda-beda, maka timbul berbagai logo yang berbeda yang muncul sebagai wajah atau ciri dari organisasi tersebut. Dalam rangka mengubah atau memperkuat citra baik organisasi, maka reposisi adalah usaha yang dapat dilakukan organisasi, diantaranya adalah mengubah logo organisasi, mengubah slogan dan motto yang lebih KUAT.

Budaya organisasi adalah semua ciri yang menunjukkan kepribadian bersama, yang meliputi antara lain keyakinan bersama, nilai-nilai, dan perilaku yang dianut oleh semua organisasi. Budaya organisasi adalah suatu pola dari asumsi dasar di mana organisasi tersebut mengetahui bahwa ia dapat memecahkan masalah dalam melakukan adaptasi eksternal dan integrasi internal, dan telah berjalan dengan baik serta diyakini sebagai hal yang benar.

Tingkat budaya organisasi adalah: Tingkat pertama artifact (artefak), yaitu barang/jasa dan tingkah laku anggota organisasi. Artefak berupa sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan jika seseorang berhubungan dengan organisasi tersebut.  Tingkat kedua espoused values (nilai-nilai), yaitu yang didukung dengan alasan tertentu yang diberikan oleh sebuah organisasi untuk mendukung cara melakukan sesuatu. Tingkat ketiga basic assumptions (asumsi dasar), yaitu keyakinan yang dianggap sudah ada oleh suatu organisasi, yang menjadi sumber nilai, keyakinan, dan pola pikir.

Ketiga tingkatan budaya organisasi tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena pada hakikatnya ketiganya merupakan satu kesatuan. Sebagai contoh keterkaitan tiga tingkatan budaya secara umum, orang Amerika dan orang Cina memiliki pola pikir yang berbeda dalam hal makan, sehingga cara makan (perilaku), jenis makanan, dan alat makan (artefak) juga berbeda. Orang Amerika makan beef steak dengan pisau dan garpu sedangkan orang Cina makan mie berkuah dengan sumpit dan menghirup kuahnya langsung dari mangkuk.

Budaya organisasi dapat ditumbuhkembangkan dengan menata unsur-unsur pembentuknya.  Setiap organisasi memiliki sejarah yang tidak terhapuskan. Manusia Indonesia hari ini dibentuk oleh sejarah bangsa yang dibangun ratusan tahun lalu. Demikian juga, budaya birokrasi di daerah juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya NKRI.

Nilai-nilai dasar dan keyakinan adalah pondasi sebuah identitas organisasi yang diyakini bersama sebagai sebuah kebenaran. Nilai-nilai dasar adalah identitas organisasi yang diyakini oleh seluruh pegawai sebagai kebenaran. Ia akan menjadi pedoman dalam berperilaku bagi seluruh pegawai. Nilai-nilai dasar yang dimaksud adalah Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan.

Simbol-simbol merupakan manifestasi dari nilai-nilai keyakinan yang dimiliki oleh organisasi. Simbol dapat berupa logo, nama organisasi, pakaian seragam, dan sebagainya.  Banyak organisasi yang menggunakan bahasa seperti slogan, motto, filosofi, ungkapan, dan sebagainya untuk memberikan arti khusus kepada pegawainya atau orang lain. Misalnya motto “Untuk Anda Kami Ada”, atau “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”, “Nagara Dana Rakca” dan lain sebagainya.

Ritual adalah setiap kegiatan yang bersifat ekspresif dan dilakukan melalui serangkaian langkah berkelanjutan yang secara konsisten secara rutin atau berulang-ulang. Sebagai contoh, upacara bendera yang dilakukan rutin setiap hari-hari besar.

Dari unsur-unsur tersebut di atas, penulis akan secara khusus membahas tentang MOTTO organisasi. Identitas suatu organisasi merupakan cerminan dari visi, misi dan ideal suatu organisasi yang umumnya divisualisasikan dalam MOTTO.  MOTTO merupakan suatu hal yang nyata sebagai pencerminan hal-hal yang non visual dari suatu organisasi, misalnya budaya, perilaku, sikap, kepribadian, yang dituangkan dalam suatu bentuk tertulis.

Penggunaan motto  bagi suatu organisasi adalah pencerminan dari hal-hal yang ideal,meliputi antara lain ruang lingkup kerja, visi dan misi, serta budaya organisasi. Logo merupakan penterjemahan dari ide-ide yang abstrak disingkat menjadi sesuatu yang nyata, dan berperan sebagai wajah dari organisasi tersebut. Oleh karena itu, sebuah logobiasanya mengandung nilai-nilai simbol yang baik.

MEMPERKUAT REPOSISI CITRA BKD

Upaya untuk memperkuat citra BKD sudah dimulai secara bertahap.  Sebab BKD memahami bahwa hakekat eksistensi pemerintahan adalah memberikan pelayanan kepada publik (baca: ASN-PNS). Pemerintah tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri atau dilayani, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai kemajuan bersama. Konsepsi dasar ini memberikan indikasi bahwa  pemerintah haruslah memiliki keberpihakan kepada  masyarakat.

Pemerintah perlu semakin mendekatkan dirinya dengan masyarakat sehingga dapat memberikan respon secara cepat terhadap kebutuhan masyarakat yang dinamis.  Asumsi yang mendasari konsepsi ini adalah bahwa pemerintahan yang berada dalam jangkauan masyarakat, maka pelayanan yang  diberikan menjadi lebih cepat, responsif, okomodatif, inovatif, produktif, dan ekonomis.

Dalam konteks ini maka tindakan merekayasa ulang struktur dan fungsi  (restrukturisasi, revitalisasi dan refungsionalisasi) sistem pemerintahan di daerah menjadi mutlak adanya dalam kerangka pengembangan. Struktur dan sistem pemerintahan di pemerintah daerah telah direkayasa ulang seiring dengan pemberlakuan sejumlah kebijakan, antara lain UU 22 Tahun 1999.

Pelayanan oleh karenanya menjadi kata kunci kenapa pemerintah daerah itu bereksistensi. Sebagaimana diketahui bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota yang meliputi: perencanaan dan pengendalian pembangunan; perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; penyediaan sarana dan prasarana umum; penanganan bidang kesehatan; penyelenggaraan pendidikan; Penanggulangan masalah sosial; pelayanan bidang ketenagakerjaan; fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; pengendalian lingkungan hidup; pelayanan pertanahan; pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; pelayanan administrasi umum pemerintahan; pelayanan administrasi penanaman modal; penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan  urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Di dalam Perda nomor 11 tahun 2005 Propinsi Jawa Timur tentang pelayanan publik disebutkan, bahwa kewajiban Pemerintah sebagai penyelenggara utama pelayanan publik untuk melayani kebutuhan publik yang lebih baik sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan demokratis merupakan amanat konstitusional UUD 1945. Prinsip-prinsip itu adalah asas kepastian hukum, asas keterbukaan, asas partisipatif, asas akuntabilitas, asas kepentingan umum, asas profesionalisme, asas kesamaan hak, asas keseimbangan hak dan kewajiban, asas efisiensi, asas efektivitas dan asas imparsial.

Pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara berkesinambungan, seiring dengan perkembangan harapan publik yang menuntut untuk dilakukan peningkatan kualitas pelayanan publik. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik itu, ditetapkan standar dan kriteria dari penyelenggara pelayanan publik maupun masyarakat sebagai penerima pelayanan publik serta pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan perlindungan atas hak-hak publik dalam mendapatkan pelayanan publik dalam suatu peraturan daerah.

Hak penerima layanan publik mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas-asas dan tujuan pelayanan publik serta sesuai standar pelayanan publik yang telah ditentukan. Mendapatkan kemudahan untuk memperoleh informasi selengkap-lengkapnya tentang sistem, mekanisme dan prosedur dalam pelayanan publik. Memberikan saran untuk perbaikan pelayanan publik. Mendapatkan pelayanan yang tidak diskriminatif, santun, bersahabat dan ramah. Memperoleh kompensasi apabila tidak mendapatkan pelayanan sesuai standar pelayanan publik yang telah ditetapkan. Menyampaikan pengaduan kepada penyelenggara pelayanan publik dan atau Komisi Pelayanan Publik untuk mendapatkan penyelesaian. Mendapatkan penyelesaian atas pengaduan yang diajukan sesuai mekanisme yang berlaku. Mendapatkan pembelaan, perlindungan, dalam upaya penyelesaian sengketa pelayanan publik.

Selain hak, penerima layanan publik mempunyai kewajiban untuk mentaati mekanisme, prosedur dan persyaratan dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Memelihara dan menjaga berbagai sarana dan prasarana pelayanan publik dan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik dan penyelesaian sengketa pelayanan publik.

Tingkat kepuasan masyarakat merupakan indikator keberhasilan pelayanan yang diberikan oleh BKD. Semakin besar manfaat yang dirasakan publik, semakin bagus pula kualitas layanan yang dilakukan aparat. Sebaliknya, tingkat kepuasan yang rendah mengindikasikan buruknya pelayanan aparat publik. Tinggi rendahnya kepuasan publik terhadap layanan aparatur itu bisa diketahui dari kegiatan monitoring yang dilakukan masyarakat.

Dalam hal ini, survey kepuasan pelanggan yang rutin diadakan oleh BKD setiap tahun bertujuan melakukan monitoring, yaitu upaya untuk mengetahui apa yang dilakukan negara sebagai pemangku kewajiban terhadap masyarakatnya sebagai pemangku hak. Tentu saja dalam monitoring ini akan terlihat sejauh mana upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya. Hal lain yang mesti diperhatikan adalah layanan publik harus fleksibel, berkualitas dan berkeadilan gender.

Reposisi adalah usaha memposisikan ulang citra yang terbentuk pada suatuorganisasi setelah sekian waktu berjalan dan berinteraksi dengan masyarakat. Reposisimerupakan upaya yang dilakukan dari dalam organisasi, untuk membentuk citra tertentu dari organisasi yang berkaitan dengan kemampuan serta tujuan dengan iklim yang ada di luar organisasi.

Dalam kaitannya dengan mengubah citra organisasi, maka reposisi adalah usaha untuk memperbaiki atau bahkan memperkuat citra organisasi,diantaranya adalah mengubah tampilan wajah atau logo organisasi.

Selain dibentuk oleh upaya dari dalam organisasi, citra suatu organisasi juga dibentuk oleh respons dari masyarakat yang menggunakan atau berkaitan dengan produk atau layanan yang dihasilkan oleh organisasi. Jadi citra organisasi hanya akan muncul ketika penampilan, kantor, produk, lingkungan, sistem informasi dan perilaku dipersepsi oleh sasarannya (konsumen atau pemangku kepentingan), yang akan menilai organisasi melalui salah satu dari komponen tersebut.

Citra bukan hanya usaha yang dibentuk dari dalam organisasi tetapi utamanya adalah yang terbentuk dari luar organisasi ketika berinteraksi dengan masyarakat. Faktor masyarakat dalam hal ini adalah faktor visual, dimana posisi masyarakat adalah sebagai pembaca teks dari kumpulan tanda-tanda yang diciptakan dari dalam organisasi, dan dalam persepsi yang lain adalah sebagai penerima dan yang merasakan jasa yang diberikan oleh organisasi.

BKD adalah salah satu wadah organisasi  yang bertugas untuk memberikan pelayanan-pelayanan kepegawaian. Pelayanan yang diberikan oleh BKD seharusnya bisa profesional dan memuaskan berdasarkan atas Standar Pelayanan Minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Terkait dengan hal di atas, yang dirasa sangat penting saat ini adalah bagaimana agar pelayanan kepegawaian itu bisa dekat dan akrab dengan klien/konsumen/pegawai.

Setidaknya ada sejumlah unsur yang harus dimiliki oleh BKD dalam membentuk kondisi kedekatan dengan PNS, antara lain: Pertama, ubiquitly dan reach, artinya produk BKD harus mudah dijangkau konsumen (reach). Kedua, customer intimacy dan building relationship, artinya produk BKD harus membangun kedekatan dengan konsumen (customer intimacy) dan membangun hubungan (building relationship). Ketiga, guaranteed reliability, artinya kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya tergabung dalam slogan “always there”, yang dialih bahasakan menjadi “selalu hadir melayani”.

Semangat melayani ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa brand driver, antara lain:

  1. Kepercayaan, pengertian, selalu bersama anda
  2. Mengikuti zaman, efisien, operasional
  3. Tangguh, dapat diandalkan terpercaya
  4. Akrab, mudah, jangkauan luas
  5. Kerjasama tim, berenergi, performasi
  6. Mudah, modern, fungsional
  7. Terjangkau dan bersih dari KKN
  8. Bersahabat, pintar, dan pengertian.

Nah, di berbagai organisasi pelayanan public brand-brand driver itu menjadi slogan dan dituliskan besar-besar di ruangan pelananan public dengan harapan bisa menjadi  “ruh” pelayanan. Pertanyaannya, apa slogan, brand dan motto BKD  yang saat ini paling cocok?

Mari kita diskusikan bersama.

@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s