OPINI: PERAN DIKLAT DALAM PENINGKATAN KINERJA (ROLE OF PERFORMANCE IMPROVEMENT TRAINING)

Posted on Updated on

Oleh: Drs Ali Sarbini, SH, MH, Kepala Bidang Diklat BKD

Kebutuhan tenaga-tenaga terampil di birokrasi pemerintah sudah merupakan tuntutan yang tidak dapat ditunda lagi. Di masa saat ini, justru seharusnya para pengambil kebijakan lebih menyadari bahwa tuntutan untuk memiliki SDM yang handal harus dilakukan secara terus-menerus. Salah satu caranya adalah melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Pendidikan dan pelatihan yang direncanakan sesuai dengan analisis kebutuhan akan dapat menghasilkan tenaga-tenaga SDM yang handal. Di samping itu, pendidikan dan pelatihan akan dapat mempercepat (akselerasi) dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap semua pegawai. Oleh karena itu peranan pendidikan dan pelatihan adalah hal yang penting bagi setiap organisasi, terutama di birokrasi pemerintahan.

Di lain pihak, dengan adanya pendidikan dan pelatihan juga akan dapat meningkatkan kinerja pegawai. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard: 1993).

Ahli lain mengatakan bahwa kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A), motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O). Artinya: kinerja merupakan fungsi dari kemampuan, motivasi dan kesempatan (Robbins: 1996). Dengan demikian kinerja ditentukan oleh faktor-faktor kemampuan, motivasi dan kesempatan.

Dalam hal ini, kemampuan para pegawai dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Oleh karena itu, untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh diklat terhadap kinerja pegawai, manajemen Diklat perlu untuk:
1. Menyusun rencana pelatihan dan pengembangan pegawai.
2. Menyusun prioritas pengembangan pegawai.
3. Memilih program pelatihan yang efektif.
4. Menyusun kalender program pendidikan dan pelatihan.
5. Menyiapkan anggaran pengembangan pegawai yang lebih efektif.
6. Mendukung pencapaian kinerja usaha.

ANALISA KEBUTUHAN DIKLAT (TRAINING NEED ANALYSIS)

Diklat atau pelatihan bagi pegawai dari suatu organisasi merupakan hal yang penting untuk menyiapkan pegawainya dalam mencapai tujuan organisasi. Salah satu tugas pokok organisasi dalam mengembangkan pegawainya agar dapat berkompetitif adalah melalui diklat. Untuk dapat mengetahui pelatihan apa yang cocok bagi setiap pegawai perlu dilakukan analisis kebutuhan (training need analysis).

Untuk mengetahui kebutuhan pelatihan setiap pegawai yang ada dalam organisasi, maka yang harus dilakukan: (1) mengidentifikasi kebutuhan pelatihan; (2) menganalisis fungsi pekerjaan; dan (3) menetapkan sasaran pelatihan.
Di samping itu juga perlu dilakukan penilaian kebutuhan pelatihan, yang meliputi: (1) apakah kebutuhan pelatihan berdasarkan sasaran organisasi; (2) apakah kebutuhan pelatihan dimulai dengan efektivitas dalam bidang pekerjaan utama organisasi; (3) apakan kebutuhan pelatihan mencakup semua level personel; (4) apakah kebutuhan pelatihan mengidentifikasi sasaran yang tidak terpenuhi atau berisiko tidak terpenuhi; (5) apakah kebutuhan pelatihan mengidentifikasi kesenjangan kompetensi (pengetahuan, keteram-pilan dan sikap) bagi setiap pegawai.
Analisis kebutuhan diklat mencakup:

1. Kebutuhan Organisasi: Kelemahan umum apa yang dimiliki keseluruhan atau bagian dari organisasi yang mempengaruhi pencapaian sasaran organisasi.
2. Kebutuhan pekerjaan: Pengetahuan, kete-rampilan, dan sikap apa yang dibutuhkan untuk menjalankan peran dalam pekerjaan?
3. Kebutuhan residual: Kebutuhan yang telah ada beberapa waktu (misalnya karena pada waktu yang lalu terjadi perubahan sistem, namun tidak ada atau hanya sedikit pelatihan). Kekurangan keterampilan apa yang tidak dikenali atau dikembangkan.
4. Kebutuhan masa depan yang meliputi: (1) Pengetahuan, keterampilan, sikap untuk tugas dan sasaran baru atau yang sudah ada, (2) Keterampilan khusus yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan perubahan: keteram-pilan manajemen perubahan (3) Keterampilan yang mungkin diperlukan jika perubahan yang diinginkan terjadi.

PENGARUH DIKLAT TERHADAP KINERJA PEGAWAI

Tujuan diklat adalah untuk memberikan bekal bagi setiap pegawai agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, kinerja pegawai akan meningkat. Namun pada kenyataannya, sering para pimpinan yang telah mengirimkan anak buahnya untuk mengikuti diklat, tidak melihat bahwa anak buahnya tersebut tidak mengalami perubahan perilaku dalam bekerja. Keluhan-keluhan seperti ini sering dirasakan oleh para atasan yang mengirim anak buahnya untuk mengikuti diklat. Tidak terjadi perubahan perilaku yang signifikan setelah mengikuti pelatihan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan evaluasi atau penelitihan setelah mengikuti pelatihan. Hal ini akan terlihat pengaruh diklat terhadap kinerja pegawai.
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh diklat terhadap kinerja pegawai, maka perlu setiap peserta diklat yang telah mengikuti diklat dapat memberikan penjelasan tentang:

1. Apakah kebutuhan diklat dapat terpenuhi?
2. Apakah diklat tersebut telah memberikan wawasan baru mengenai peran mereka?
3. Seberapa relevankah pengetahuan baru tersebut dengan pekerjaan mereka?
4. Bagaimana mereka akan menerapkan hasil pembelajaran di tempat mereka?
5. Apakah mereka telah menyusun rencana tindakan untuk menerapkan hasil pembelajaran?
6. Bantuan apa yang mereka perlukan dari manajer atau orang lain untuk menerapkan hasil pelatihannya?
7. Pada bidang apa mereka membutuhkan informasi lebih lanjut atau bimbingan?
8. Apakah dibutuhkan program tindak lanjut di masa depan?
Di samping itu, para alumni diklat diberikan kesempatan untuk mengevaluasi pelatihan yang telah diikuti. Pada umumnya bidang-bidang yang perlu digali meliputi:
1. Bagaimana pendapat mereka mengenai pelatihan tersebut secara keseluruhan?
2. Apakah pelatihan sesuai dengan janji yang ditulis dalam brosur?
3. Apakah pengajar menguasai materi dan kompeten dalam menyampaikannya?
4. Apakah materi pelatihan yang diberikan sesuai dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta?
5. Apakah persiapan peserta untuk mengikuti pelatihan memadai, apakah atasan dapat memberi bantuan lebih banyak lagi?
6. Apakah kelemahan pelatihan tersebut? Bagaimana cara mengatasinya?
7. Apakah metode yang digunakan sesuai? Seberapa metode sesuai?
8. Apakah pelatihan cukup bervariasi untuk menyesuaikan dengan berbagai gaya?
9. Upaya apa yang dilakukan untuk mengaitkan antara materi pelatihan dan lingkungan kerja?
10. Apakah mereka merekomendasikan pelatihan/ kursus ini kepada pegawai lain? Jika ya, apa manfaatnya?
11. Apakah mereka beranggapan bahwa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diterima?
12. Apakah ada kegiatan tindak lanjut yang direncanakan oleh pengajar?
@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s